Read Me

Tampilkan postingan dengan label Fiktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiktif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2016

Masa Lalu ku Tlah Kembali

Source: www.bedenai.blogspot.co.id
Sebesar apapun kau berhasil dalam melupakan masa lalu mu, terkadang tiba-tiba masa lalu mu kembali, dan usaha mu selama ini untuk melupakannya seakan sia-sia. Masih teringat hangat bagi kita tentang cerita Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Beruntung baginya bahwa Rangga akhirnya kembali setelah sekian lama berpisah dengan Cinta. Bahkan setelah 14 tahun itu, Cinta akhirnya dia bertemu dengan sesosok pria lain yang akan menikahinya.

Yah, Rangga akhirnya kembali dengan kesuksesannya, meskipun dia meninggalkan Cinta dimasa lalu tanpa penjelasan yang jelas. Tapi setidaknya dia bertanggung jawab atas cinta yang telah ia miliki, bahkan yang telah ia sampaikan. Apakah kamu ingin seperti Rangga? Itu adalah sebuah pilihan, dimana kamu harus yakin dan siap untuk merelakan juga jika ending kisah cinta mu tak sebaik itu. Karna belum pasti Cinta mu seperti Cintanya Rangga yang mau memilih masa lalunya kembali daripada memilih seseorang yang telah menggantikanmu selama kau meninggalkannya.

Berbeda halnya dengan sebuah film yang berjudul, “You Are The Apple in My Eye” dimana mereka selalu bersama dan saling mencintai tapi tak pernah bisa bersatu karna sebuah ketakutan dan ketidakyakinan satu sama lain dan hanya mampu melihat wanita yang dicintainya selama ini dinikahi orang lain. Menyesal?? Mungkin. Setidaknya dia berhasil mencium sang mempelai (mempelai pria. Hahahaha, *mohon jangan ditiru adegan tersebut).

Semua kisah yang kau pilih adalah kisahmu yang nantinya dapat kau ingat bahkan kau ceritakan kepada anak cucumu. Langkah yang kau ambil adalah langkah awalmu untuk mengukir seribu kisah dimasa depan mu. Berdoa dan yakinlah sebelum kau melangkah, agar tidak akan ada penyesalan disuatu hari nanti. Dan yang harus kau ingat, terkadang cinta membutakan dan tak berlogika, akan tetapi perasaan dan logika harus lah berjalan beriringan. Seperti halnya sebuah melodi yang berjalan seirama akanlah terdengar sangat indah.


Selamat mengukir kisah cinta masa depanmu.:)

Selasa, 10 Mei 2016

Rindu Itu....

Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam telah datang
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimu
Namun sulit ku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada di satu persimpangan jalan yang sulit kupilih

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang ku rasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh
Diriku
(Bimbang: Melly Goeslaw)
Source: www.hipwee.com
Rindu itu bagiku menyakitkan, tapi terkadang bisa menjadi sangat menyenangkan ketika dibalik rasa rindu ada sebuah pertemuan. Akan tetapi ketika kita dalam suatu kerinduan dan tak mampu mengobati rasa rindu itu, rasa ingin membenci pun mulai datang. Namun apalah daya jika rasa cinta telah menutup semua kebencian itu.
Semakin ingin membenci, semakin sulit pula untuk menghapus rasa cinta. Semakin menjauh, dia malah semakin mendekat. Hingga akhirnya kau ingin mengakhiri semuanya dengan pasrah dan membiarkannya menyelesaikan bagiannya yang selama ini dia tinggalkan begitu saja.
Rindu itu menyiksa, rindu itu perih, rindu itu sedih, rindu itu sesak, tapi rindu itu indah. Yah, indah. Karna rindu mengajarkan kita untuk tulus, kuat, dan sabar. Rindu akan membuat kita sadar betapa besar cinta kita kepadanya. Rindu itu akan membuat kita memilih, memilih untuk menunggu dan bertahan atau merelakan dan melepaskan. Rindu itu indah ketika akhirnya kamu akan dipertemukan dengannya. Karna semua rasa rindumu selama ini akan pecah dan meluap.
Jangan pernah salahkan rindu, karna dia adalah bagian dari sebuah cerita perjalanan hidupmu. Tanpa adanya rindu hidup mungkin akan membosankan dan tak akan ada penghargaan atas sebuah pertemuan. Rindu,…..adalah suatu misteri. Layaknya penantian, rindu mampu menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga dapat menghadirkan kekecewaan.

Jika saat ini kamu sedang kerinduan, pejamkan matamu, bernafas lega dan tersenyumlah, karna saat ini diapun sedang merindukanmu. Dan kau tak kan sendiri dalam kerinduan itu. J

Rabu, 22 April 2015

Friendzone can be Happiness (2)

Buat yang lupa sama cerita awalnya, silakan klik disini!
Pict Source: www.someecards.com

Sejak saat permainan Truth or Dare itu tiap kali kumpul bareng gue selalu dicie-ciein sama si Rio. Dan anak-anak seakan mojokin kita buat sekedar duduk sebelahan lah, nyuruh Rio nganterin gue balik lah.

Hari itu pas kita kumpul tiba-tiba gue dapet kabar kalo Rio sakit, jadi kita bertiga langsung nyamperin ke rumah Rio. Nyampe sana kita disambut ramah sama Ibu dan adek Rio:

Ibu Rio : “Hallo, pasti ini yang namanya Nanda ya? Cantik sekali (*sembari menyalami kami dan mempersilahkan masuk). Rio ada di kamar tuh, langsung aja masuk ke kamarnya.”

Gue : “Iya Tante, terimakasih.”

Adek Rio tiba-tiba senyum dan gandeng tangan gue, sambil berkata:
“Kakak pacarnya Kak Rio ya? Kak Rio sering nyeritain kakak lho. Nanti maen basket sama aku ya Kak, soalnya kak Rio kan lagi sakit, jadi nggak bisa nemenin aku maen. L

Gue : “(*sambil senyum gue jawab) iya dek, nanti ya, nama adek siapa?” Dalam hati gue,  “Pantesan pada tau siapa gue, Rio suka cerita.”

Sampailah kita di depan kamar Rio. Deg-degan sih, khawatir dan cemas gitu rasanya. Gue ada di belakang Nando dan Ronal. Pas kita masuk, Rio sedang tidur dan terlihat didahinya ada kompresan penurun panas. Pa aku pegang ternyata kompresane udah nggah anget, jadi gue inisiatif buat ganti. Pas gue ambil kompresan, ternyata dia kebangun dan malah senyum dan pegang tangan gue.

Rio : “Terimakasih udah dateng. Gue nggak enak badan banget, nggak apa-apakan kalo gue tidur dulu? Kamu di sini dulu ya, jangan pergi sebelum gue bangun.”

Gue iyain aja, soalnya kasian dia lagi butuh gue (*eh, kok gue jadi lembut gini?). Sekitar 15 menit kemudian, Dino adeknya Rio dateng dan nyuruh gue, Nando, sama Ronal turun ke bawah buat makan bareng. Ternyata Ibu Rio udah nyiapin makanan. Tapi gue nggak bisa ninggalin Rio yang belum bangun, jadi gue mutusin buat nyuruh mereka berdua makan duluan.

Saat berdua sama Rio, gue cuman bisa natap muka dia yang keliatan pucat. Pas gue pegang dahinya, dia masih panas tapi mendingan lah ketimbang awal gue sampe sana. Dan dia akhirnya bangun. Pas nanyain Nando sama Ronal, gue bilang aja mereka lagi makan. Eh malah dia nyuruh gue makan juga ditemenin dia, padahal diakan masih butuh istirahat, tetep aja makasain buat makan bareng di bawah bareng yang lain.

Gue seneng awal disana udah disambut baik keluarganya, meskipun kita belum pacaran tapi rasanya udah kayak bagian dari rumah itu aja. Selama makan itu, gue sama Rio sering curi pandang dan sesekali tersenyum. Pas selesai makan kita semua malah pada main PS. Ya begitulah Rio, selalu senyum dan nggak keliatan kalo dia sakit, padahal badannya masih panas, tetep aja semangan maen bareng kita. Dan tiba-tiba dia narik gue ke luar menuju kebun, belakang rumahnya. Dia ngajak gue duduk dan ngobrol di sana. Pastilah kalian nebak kalo gue bakalan ditembak sama Rio saat itu juga, gue pun berpikir demikian, tapi.....

Rio : “Da, Lu kan tau gue suka sama Lu. Tapi gue juga tau kalo Lu masih trauma buat ngejalin hubungan sama cowok lagi setelah Anto. Jadi, gue bakalan ngebuktiin keseriusan gue ke Lu. Sebelum gue minta jawaban dari Lu, gue bakalan bikin Lu bener-bener yakin kalo gue nggak bakalan nyakitin dan bakal selalu ngejaga dan bikin Lu bahagia. Mulai sekarang aku kamu an aja deh ya ngomongnya? Hehehe.”

Abis ngomong kayak gitu Rio narik tangan gue ke dalem lagi dan ketemu sama Ibunya, bingung gue apa mau ini anak. Tapi semua pertanyaanku terjawab.

Rio : “Ma, mama tau kan ini Nanda yang sering Rio ceritain ke mama, papa, dan Dino? Biar Nanda yakin sama aku, didepan mama aku mau bilang: Nanda, setelah kita wisuda, Will you marry me?

Seketika gue kaget dong dan sejenak nggak bisa ngomong apapun sampai Dino ngomong: “Ayo Kak, mau dong mau, biar Dino punya kakak lagi.”

Aku pun meneteskan air mata bahagia dan memeluk Rio dengan mengatakan “Yes, I Will.” Sadar disitu ada Ibunya Rio dan Dino gue pun segera melepaskan pelukanku.

Dan Rio telaah menunjukkan keseriusannya. Setelah kita wisuda di hari yang sama, seminggu setelahnya kita pun menikah. Jadi bagi kami, tidak masalah bagaimana kita mengenal tetapi selama kita mampu berkomitmen dan mau terima satu sama lain atas semua kekurangan yang dimiliki, kita bisa menjalani semuanya bersama. J


*Cerita ini hanya fiktif belaka, jadi kalo ada kesamaan nama dan ada beberapa kata yang kurang berkenang, penulis mohon maaf. Terimakasih..*

Kamis, 16 April 2015

Friendzone can be Happiness (1)

Hai, gue Nanda, gadis yang gemar bermain musik dan lebih sering menghabiskan waktu sendiri di kamar dengan gitar kesayangan ketimbang dengan teman-teman lain. Ntahlah, introfet? Sepertinya itu bukan diriku, karna gue pun sering kumpul sama yang lain pas di kampus, meskipun gue lebih sering bareng sama anak-anak cowok.

Gue emang lebih nyaman diantara para cowok. Menurut gue cowok lebih mudah memaafkan dan cuek, jadi pas gue nyeplos dan bercandaan sambil ngejek-jelekin mereka, bukan dendam jatohnya, tapi malah ketawa bareng. Tapi apes banget, setelah sekita 3 tahun gue kumpul sama mereka tiba-tiba perasaan itu muncul. Ah, padahal gue paling males soal ginian. Mungkin gegara trauma.

Iyah, gue pernah deket ato lebih tepatnya jadian sama seorang anak band. Tadinya gue seband sama dia, dia pemain bass. Tapi....dia lebih doyan sama cewek kampus sebelah yang lebih terliat ke-cewek-annya dan anggun gitu. Yah pahamlah, gue kan setengah cowok. Dandanan aja kayak gini, rambut panjang sih, cuman selalu dikuncir kuda. Kaos oblong nggak pernah pake dress, rok punya cuman buat PKL dulu (*ups...ketauan gue udah semester sekian) selebihnya pake calana jeans yang kebanyakan udah dekil setengah belel. Ya gitu deh gue.

Nah, sekarang gue malah tertarik lagi sama cowok. Anehnya ni orang beda banget sama si Anto, mantan gue. Maen musik nggak bisa, naek motor cowok aja nggak pecus. Gengsi dong gue kalo si Anto ngerti. Tapi.....sumpah dia itu bikin gue melting. Awalnya pas malem itu kita maen Truth or Dare. Nah pas giliran gue dapet giliran:

Nando : “Nah giliran, Lu nih, Da. Milih apa Lu?”

Gue : “Emm...truth aja deh, kan gue jujur orangnya. Bhaahahahaha”

Nando : “Oke deh, pertanyaannya dari gue, dari kita berempat kan Lu doang yang cewek, nah siapa cowok yang menurut Lu paling keren dan yang paling kemungkinan bakalan bikin Lu tertarik”.

Gue : “Gila, Lu pertanyaane nggak mutu banget sih Do?”

Nando : “Terserah, yang penting Lu harus jawab jujur”.

Gue : “(Mampus gue kan nggak suka sama siapapun dan biasa aja sama mereka, tapi...oke deh). Gue pilih Rio deh”.

Rio : “Wah, gue? Kok bisa gue? (*Dengan nada heran dan kaget)”.

Gue : “Soalny Lu paling polos, jadi nggak bakal macem-macem dan ngebully gue gegara permaenan kayak gini. Hehehe. Sekarang giliran Lu, Yo (*Rio).”

Rio : “Gue pilih Truth aja deh, soale kalo Dare tantangane pada aneh-aneh, males”.

Bimo : “Giliran gue yang nanya ya? Kan kita nggak pernah tau Lu deket sama cewek manapun, nah  cerita doang pernah nggak kamu belakangan ini tertarik sama cewek? Cerita dong soal asmara Lu, kita kan pernasaran juga”.

Rio : “Sebenernya gue sih emang lagi suka sama cewek, tapi gue nggak berani deketin dia. Gue mah apa atuh? Kaya nggak, ganteng boro-boro, pinter nggak juga”.

Ronal : “Eh, siapa dia? Kita kenal nggak sama tu cewek?”

Rio : “Kok nanyanya banyak banget sih? Yang pasti kalian semua kenal sama dia, kenal banget malah. Dia cantik, humble, setia kawan dan periang, tapi agak cuek. Sukanya nguncir kuda rambutnya dan jago maen gitar” (*sambil menatap mataku).

Ronal & Nando  : “Njir....jangan-jangan yang Lu maksud si Nanda?” (*nada kaget setengah mati dan gue cuman diem, tak bisa berkata apapun dan Rio hanya tersenyum).

Mulai saat itu, tiap ketemu si Rio jantung gue....buset dah tatapan matanya yang dalem dengan senyuman manis di bibirnya itu lho!

Rabu, 27 Agustus 2014

Tangisan Seorang Pria

Cengeng merupakan sebutan yang melekat bagi setiap manusia yang mudah tersentuh dan gampang nangis. Isilah ini kerap diidentikkan dengan seorang wanita, akan tetapi jika kita pahami sebuah perasaan, pria pun akan bisa menangi, karena dia juga adalah seorang manusia. Beruntunglah kita para wanita karna bisa dengan bebas menangis. Lihatlah para pria! Sesakit apapun yang dia rasakan, dia sangat sulit tuk mengeluarkan air mata. Dan hal itu bisa menambah deretan rasa sakit yang saat itu dia rasakan.
Menangis itu bisa sangat bermanfaat buat kita. Dari segi kesehatan pun, menangis bisa ngebantu pembersihan mata. Tapi moga aja bukan menangis dengan air mata buaya aja. :D menangislah selama kau bisa menangis, sebelum menangis itu dilarang.
pic by: bantentasi-2113.blogspot.com
 Okta adalah seorang mahasiswa seorang akhir. Dia adalah sesosok pria yang agak pendiem tapi sangatlah setia. Kesetiaannya membuatnya terlihat sangat bijak dan tampan. Rasa percaya yang dia tanamkan kepada Nola, pacarnya. Berbeda dengan Okta, Nola adalah Wanita yanng cerewat dan punya banyak teman. Dia sering keluar bareng cowok lain, dengan seijin Okta pastinya. Rasa cemburu tak pernah tampak di wajak Okta, hanya saja dia menyimpan semuanya di dalam hatinya yang terdalam hingga tiba malam itu.
Cinta ibarat pasir yang digenggam oleh tangan. Selama kau memegangnya erat-erat, dia nggak bakal bisa bertahan lama melainkan akan cepat habis. Begitupun ketika kau tak menggenggamnya dengan baik, dia akan terbang terbawa angin dengan mudah. Jadi, genggamlah dia dengan baik, jangan terlalu mengekang atau bahkan terlalu membiarkannya.
Nola, wanita yang lebih pandai bergaul itu cenderung mulai merasa bosan atas perlakuan Okta yang dirasanya cuek. Padahal dibalik kecuekan Okta, dia sangat menyayangi Nola. Hey para pria, janganlah kalian malu atau bahkan takut untuk menunjukkan rasa sayangmu kepada wanita mu. Karna hal itu akan membuat mereka makin menyayangimu, terlebih jika kau berani menunjukkan ke dunia bahwa dia adalah orang yang kau sayangi dan telah memenangkan hatimu selama ini.
Semuanya telah terjadi. Nola mutusin buat pergi, sedangkan Okta yang sebenernya masih menyayangi Nola tapi telah lama memendam rasa sakit karna sikap Nola yang udah sering jalan bareng cowok lain, memnbuatnya tak mampu menahan air matanya lagi. Rasa sakit itu bertambah ketika Nola meneteskan air matanya dan meluapkan isi hatinya seakan dia lelah atas semua sikap Okta yang selama ini cuek. Yah, akhir cerita mereka setelah 5 tahun pacaran ini kandas dengan sebab yang sebenernya sepele. Kurangnya kejujuran dan luapan isi hati, satu sama lainnya. Satu sisi Nola lebih berpikir ke depan tuk berusaha menanfaatkan peluang tuk bisa mengenal pria lain (lagi), sedangkan Okta, pria pendiem dan lebih terkesan pasrah itu memilih tuk belajar ikhlas dan berharap Nola kan bisa lebih bahagia bersama pria lain. Padahal pada kenyataannya, dialah pihak yang sangat tersiksa karna sifat pendiem yang membuatnya menyimpan semua rasa sakit itu sendiri. Hingg akhirnya Okta menyadari, masa lalunya bersama Nola beserta semua kenangannya adalah hadiah terbesar Tuhan tuk menyadarkannya, betapa selama ini dia lemah di depan wanitanya.
Mulai saat itu, dia selalu berusaha keras tuk berubah menjadi sosok pria yang lebih baik, lebih tegas, lebih bersahabat dengan wanita lain, dan yang paling penting adalah lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Yah, selama ini sifat pemalu dan niatan menjaga perasaan Nola, membuat dia enggan tuk sekedar beramah sapa dengan wanita lain. Banyak waktu yang harus dia habiskan hingga akhirnya dia berhasil mengobati rasa sakit yang selama ini tertanam di hatinya. Bahkan dia tak pernah menyadari bahwa banyak wanita yang selama ini menantikan perpisahannya dengan Nola. Febby, wanita cantik bertubuh tinggi dan gemar memakai celana pendek, kaos oblong lengan panjang, sepatu sporty, dan mengikat rambut panjangnya layaknya ekor kuda itu adalah satu diantara puluhan pasang mata wanita yang selalu memperhatikan Okta.
Febby tak pernah memperlihatkan kekagumannya terhadap Okta. Karna dia adalah wanita yang terkesan cuek, jutek, dan nggak banyak ngomong. Walopun dia punya banyak temen pria, tapi Febby adalah wanita setia. Setia pada sahabat-sahabatnya dan setia kepada pasangannya (pasangannya pada saat dulu ngejalin hubungan). Febby hanya bersikap layaknya secret admirer. Tapi dia sebenernya mulai ngedeketin Okta dengan caranya sendiri. Cara dia buat bisa ngeliat okta ngelihat dunia yang lebih luas dan akhirnya nanti Okta mampu melihat dunianya di Febby adalah dengan ngajak Okta gabung sama temen-temennya. Febby tak pernah takut tuk dibilang wanita gampangan, karna menurutnya saat ini, yang terpenting adalah dia bisa mengenal banyak orang. Karna dia menyadari bahwa di dunia ini dia nggak bakal bisa hidup sendiri. Mungkin dia bakalan tetep mampu hidup tanpa Okta sebagai pacarnya, tapi belum pasti Febby bisa hidup tanpa Okta sebagai sahabatnya (soalnya bisa jadi Febby dibunuh sama Okta, kan artinya Febby nggak bisa idup. Hehehe, cuman pengen melepaskan ketegangan kamu sejenak kok).
pic by:banyobiroe.wordpress.com
Hari itu pun tiba. Okta mulai mempertanyakan alesan Febby yang selama ini belum pernah menyapanya, tiba-tiba mendekatinya dan bersahabat baik dengannya hingga saat ini. Tapi ucapan Febby mampu menyadarkan Okta, meskipun sangant singkat. “Aku hanya ingin melihatmu tersenyum kembali bersama dunia mu yang lebih luas dan bebas.” Ucapan itulah yang membuat Okta sadar bahwa Febby udah merhatiin Okta sejak lama. Selain itu, senyum ceria dan ucapan menyenangkan walo terkesan seenaknya yang terucap dari bibir Febby mampu mencerminkan ketulusan hatinya. Sejak saat itu Okta pun sering merhatiin Febby dan sesekali menatap Febby dalam. Ntah apa yang dipikirkan Okta, hanya saja mungkin dia baru menyadari betapa besar Kuasa Tuhan yang telah mempertemukannya dengan Febby yang selama ini udah sabar dan tulus meskipun dia tak pernah bersikap spesial kepadanya. Dan rasa sayang pun mulai tumbuh diantara mereka hingga akhirnya mereka memutuskan tuk menjadikan persahabatan mereka lebih spesial. Sahabat tuk berbai keluh kesah, sahabat tuk menjalani hidup bersama, sahabat dalam satu visi dan misi yang sama, dan nantinya bisa menjadi sahabat dalam satu atap bersama sahabat-sahabat kecil yang nantinya akan ada dan muncul dari kasih sayang persahabatannya (di baca: anak-anak mereka).
pic by: laiyyinurhariri.wordpress.com

You’re Only One For Me but I’m Not Only One For You (Tania)

Pernah patah hati? Jangan tanyakan hal itu, cukup tanya berapa sering. Dan jawabanya adalah tak terhitung. Itulah yang dialami cewek tinggi semampai dengan rambut panjang terurainya. Cewek cantik yang tak sedikit disukai banyak cowok ini bukanlah tipe cewek pemilih, namun seringkali dia salah pilih nama tuk ditulis di hatinya. Tania namanya.
Mungkin karna karma, ato mungkin ini adalah cara Allah tuk membuatnya makin kuat dan makin bisa mersiapin diri buat lebih baik sebelum dipertemukan dengan orang pilihan-Nya. Tania adalah tipe cewek cuek dan cenderung jutek bahkan galak sama cowok yang baru dia kenal. Cuman setelah kenal Tania, orang bakal paham gimana tulusnya Tania dan alangkah baiknya dia. Tania adala sosok cewek yang dikenal mandiri, keras, tegas, dan tegar juga. Padahal sebenernya dia lemah dan manja. Yah, semua itu Tania lakuin buat dia nggak terliat lemah dan dia bisa selalu nguatin dirinya sendiri.
Doi memulai perjalanannya sejak menginjak kelas 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Cinta monyet yang sbenernya nggak dia ngerti itu hanya bertahan beberapa bulan atau bahkan beberpa minggu dan beberapa hari. Yah, sesuatu yang nggak bisa dianggep sebagai pacaran, namun tetep bisa doi jadiin pelajaran setelah doi beranjak dewasa. Satu, dua, tiga, empat, dan lima sosok cowok yang pernah dia pikir pernah jadi pacarnya dimasa putih birunya itu kini seakan berlalu dan meninggalkan rasa penyesalan. Penyasalan karna memulai semuanya terlalu dini tanpa memikirkan banyak hal dan cuman sok dewasa pada saat itu. Jadian cuman karna kasihan pun pernah dia lakuin. Jahat? Yah, memang. Tapi sebelum Tania tau semua itu lebih menyakitkan daripada kejujuran walopun pahit, Tania dimasa ABGnya hanya bermaksud ngejaga perasaan cowok udah tulus sayang sama dia. Tak banyak yang dia ngerti saat itu, cuman terkadang Tania merasakan kebahagiaan dan bisa berbagia cerita soal cowok dengan temen-temen putih biru lainnya. Tapi dibalik sok dewasanya Tania ABG, doi emang udah cukup dewasa diantara temen-temen lainnya yang kebanyakan cuman pacaran karna alesan ganteng, cantik, keren, seksi, anak orang kaya, terkenal, pemain band, punya motor bagus, idola banyak cewek, bla bla bla. It’s bullshit she thinks. Dan sampe beranjak dewasa kini pun, Tania masih berpendapat sama soal hal ini.
Kerendahan hati Tania masih tetep melekat hingga masa putih abu-abunya. Tania yang dulu pendiem, minderan, dan terkesan penakut mulai berubah jadi sosok periang, aktif, dan percaya diri. Tak banyak orang yang menganggapnya pinter lagi cuman karna masuk di kelas unggulan yang padahal dia diurutan belakang dikelas unggulan semasa puti birunya. Masa putih abu-abu Tania dimulai dengan baik. Hampir selalu masuk lima besar di kelas dan mulai terlihat diantara temen-temen, meski masih enggan terlihat di hadapan para guru. Karna Tania lebih nyaman tak dianggap spesial oleh mereka dimana dia bisa jadi diri sendiri tanpa harus takut dikenal yang nantinya diakan merasa terkekang. Pramuka adalah jiwanya, karna dia suka petualangan. Kemah, melewati bukit dan hutan bersama adalah kebahagiaan tersendiri olehnya. Saling membantu dan menjaga antar anggota dan kekeluargaan antara senior dan junior membawanya hingga menjadi anggota Bantara SMAnya. Cerita cinta Tania tak sebanyak ceritanya semasa SMP. Karna Tania mulai menyadari kalo semuanya hanya menghabiskan waktu dan percuma kalo cuman buat sekedar pacaran maen-maen.
Yah, bisa dibilang Tania adalah cewek yang dewasa sebelum waktunya. Pola pikirnya terbentuk dari keluarganya yang pernah ada di posisi atas, bahkan paling bawah sekalipun. Pacar yang juga mungkin bisa dijadiin calon suami, pemikiran itu muncul sejak Tania mengenakan seragam putih abu-abunya. Dia ingin kata pacaran mampu membuatnya lebih baik, termasuk lebih giat dalam belajar. Dia pun selalu ngejaga hubungan dia dengan para mantan. Karna menurut Tania, Erlan, Angga, Dony, Satria, dsb adalah orang yang pernah berada di hatinya dan pernah menjadikannya sebagaicewek spesial buat mereka. Mungkin kalian ngira Tania selalu punya cerita cinta yang mulus dan manis, tapi kenyataannya tidak.
Tania pernah diselingkuhin, tapi dia juga pernah selingkuh. Bukan karna keegoisnnya tapi karna pacarnya selingkuh dan selingkuhannya punya pacar yang selingkuh juga. Jadi nggak ada yang slaing menyakiti dan menghianati dong? (Nggak usah mikir ini bener apa nggak, iyain aja lah :D). Sebenernya siapa Tania dulu itu tak sepenting Tania yang sekarang. Banyak orang yang selalu terbayang-bayang sama masa lalu seseorang, terlebih masa kelamnya. Namun dia harus sadar, bisa jadi orang lain melakukan hal yang sama kepadanya. Seharusnya dia tau bahwa semua orang bisa berubah. Ibarat istilah, “Lebih baik jadi mantan preman dari pada mantan kyai.”
Selain diselingkuhin, banyak hal yang nyakitin buat Tania. Tapi meskipun demikian, Tania selalu berusaha buat jadiin semua kepahitan itu menjadi manis. Karna dibalik ujian Allah, selalu ada maksud baik buat kita. Tania pun pernah galau setaun lamanya lho buat ngelupain dan bener-bener ngikhlasin mantan. Tapi usaha keras itu terbayar ketika dia kenal cowok lain lagi. Tapi tak semulus itu perjalanan cinta Tania berikutnya. Ketika dia mulai membuka hati, pintunya hanya dibiarkan terbuka dan ditinggalkan. Pernah pintu itu dimasuki dan pembuka pintu hati bertahan sejenak mulai saling mengenal, namun beberapa bulan setelahnya ditinggalnya lagi. Trauma pun menderanya, tapi sikap Tania yang kuat mampu membantunya melewati semua itu perlahan.’
Tania bukanlah cewek yang hobi ganti pacar atopun playgirl. Doi malah termasuk cewek setia, tulus, dan jujur selama menjalin hubungan. Namun image yang terbentuk tiap kali tau kalo mantannya banyak (meskipun nggak bisa dibilang mantan pacar juga karna cuman jadian bukan semua karna sayang#jaman SMP) membuat dia dipandang berbeda. Terlebih dia punya banyak temen cowok. Because, usually human judge people by cover. Dibalik semua pengalan Tania dimasa lalu itu, doi masih tetep ngalamin apa yang namanya patah hati. Bahkan doai sangat terlatih buat patah hati. Mulai dari memilih orang yang akhirnya tak memilihnya lagi walo sebelumnya doi dipilih duluan, hingga sekedar selingan dikala bosan. Namun semua itu akhirnya membuat Tania sadar bahwa mereka hanya bagian dari orang yang dikirimkan Allah tuk buatnya semakin kuat dan tegar. Trauma? Sangat.
Tapi rasa trauma yang masih sering muncul tak menghentikannya tuk mengenal cowok lain. Meskipun awalnya Tania tak berniat mengenalnya lebih, tapi keadaan membuat dianta Tania dan Vino menjadi semakin dekat. Sejujurnya Tania udah capek buat deket lagi sama cowok, tapi Tania sadar, doi nggak boleh deketin cewek. :D Vino adalah sosok yang baik. Sikap tulus dan ramahnya seakan meneduhkan jiwa Tania yang galak, tegas, dan jutek itu. Kesabaran Vino seakan menghipnotis Tania. Tapi di sisi lain, hati Vino pun masih terluka. Keduanya memiliki hati yang terluka dan mereka pun saling mencoba luka masing-masing. Mulai dari belajar saling memahami dan memaklumi kecuekan, kemanjaan, keegoisan, dan kekanak-kanakan yang terkadang muncul seakan mewarnai kisah mereka. Tapi kapan luka keduanya sembuh, hanya Vino dan Tania yang bisa menjawabnya. Taniapun seakan kembali menjadi sosok penakut. Doi terlalu takut tuk kehilangan yang kesekian kali, tersakiti tuk yang kesekian kalinya, tapi dia bahagia bisa ketemu Vino. Karna Vino lah sosok cowok yang belakangan bisa buat Tani tertawa dan tersenyum bahagia, menangis lega, bercerita tentang semuanya, jalan kemana pun yang dia mau dan selalu setia ngedengerin kebawelan Tania. Vino, cowok yang selalu takut nyakitin perasaan orang yang dia sayang ini nggak sepengalaman Tania dalam hal asmara, cuman si pemalu ini bisa membuat tania nyaman dengan kedewasaannya dan kelucuan yang kadang dia berikana.
Picture by: e-lovequotes.blogspot.com
Vino bukan lah cowok egois sebenernya, tapi luka yang ada dihatinya membuatnya takut tuk melangkah lebih dan takut kehilangan semua kepercayaan yang pernah ditanamnya (lagi). Andai Vino tau, rasa takut nyakitin perasaan orang yang dia sayang itu bisa dengan mudah dia hindari. Karna ketulusannya, kepercayaannya, kebaikan hatinya, dan kasih sayangnya akan mampu membuat Tania bahagia disampingnya. Selama Vino mampu memperjuangkan hati Tania dan seakan tak merelakan Tania bersama orang lain. Karna selama dia beneran sayang sama Tania, dia bakal nggak rela kehilangan tania dan rasa takut kehilangan akan lebih besar daripada rasa takut menyakiti. Karan rasa takut menyakiti bisa dibayar dengan usaha Vino buat ngejaga perasaan Tania.


Dibalik itu semua Tania yang tegas dan terlatih patah hati telah bersiap kembali patah hati. Karna tak hanya kali ini Tania menjadi sosok yang hadir dalam proses penyembuhan luka hati hingga akhirnya cowok itu balikan sama mantannya. Tania hanya mampu berpikir positif sebagai penghubung 2 hati yang sempat terpisah kembali menyatu. Untuk saat ini Tania hanya mampu bertahan dengan satu hati yang telah jadi milik Vino, meskipun mungkin di hati Vino masih ada 2 nama, Tania dan Melly, sang mantan.

Minggu, 01 Juni 2014

Hujan Selalu Buat Ku Rindu

picture by http://nonikhairani.com/
 Hujan selalu membuatku merindukannya, Rama Aditya. Cowok yang senantiasa menjaga hatinya untuk ku. Aku beruntung punya pacar seperti dia. Meskipun dia jauh di sana, tak pernah terpikir oleh ku atau pun dia untuk mengakhiri semua kisah yang indah ini.
Hujan selalu mengingatkan ku pada Rama karna awal kisah kita pun dimulai dari hujan. Di bawah payung biru muda, diantara derasnya air hujan yang turun, Rama mengutarakan isi hatinya dan menawarkan diri tuk jadi pelindungku. Sejak saat itu kisah cinta kita dimulai. Masa pacaran ala anak kampus yang ngekos memang membuat kita lebih bisa berpikir dewasa. Berhemat bersama dan saling menjaga diri dari pergaulan anak muda yang semakin kacau. Itulah arti cinta dan kasih sayang bagi diriku dan Rama.
Sudah 3 tahun sejak semester 2 kita bersama. Pendidikan S1 Akuntansi yang kita ambil akhirnya menjadikan kita sebagai sarjana ekonomi. Namun dibalik kebahagiaan gelar sarjana ini, aku dan Rama harus berpikir kedepan mengenai hubungan kita. Karna kita harus bekerja dan bahkan akan terpisah oleh Selat Sunda dan Laut Jawa. Yah, dia harus kembali ke pulau Laskar Pelangi, Belitung. Sedangkan aku memilih tuk tetap tinggal di kota Atlas, Semarang ini.
Meski pun harus terpisah oleh jarak, kita tak mempermasalahkan hal tersebut. Dari awal aku dan Rama punya komitmen untuk senantiasa menabung untuk masa depan kita bersama. Ilmu, uang, dan kedewasaan kita untuk menjalankan rumah tangga kita kelak. Jadi udah jauh-jauh hari kita memikirkan hubungan jarak jauh yang pasti akan kita jalani suatu hari nanti. And this is the day.
Siang ini setelah kemarin kami melaksanakan upacara wisuda, aku mengantar Rama ke bendara. Hujan di siang itu seakan ingin menyamarkan air mata ku yang mengalir di pipi. Meski pun aku ikhlas harus menjalani LDR ini, Tapi rasa takut kehilangan selalu menyelimuti pikiran ku. Meskipun aku tau Rama pasti merasakan hal yang sama, tapi Rama selalu menguatkan ku dengan senyuman cerianya. Ya, itu yang selalu membuatku lebih tenang dan nyaman.
Setibanya di kota Laskar Pelangi, kita langsung skypyan. Smartphone yang kita punya selalu mendukung kita tuk mengurangi rasa kangen dan rasa cemas satu sama lain.
“Alhamduliillah aku nyampe dengan selamat, Sayang.”
Fiuh, syukurlah. Tapi aku udah kangen aja walo baru beberapa jam yang lalu. Hehehe”
“Peluk cium Sayang ku...moga kita cepet bisa bertemu lagi. Tunggu aku tuk melamarmu.”
“Sayang selalu membuatku makin kangen. I will always waiting for you My Honey.”
Malam ini turun hujan dan membuatku makin merindukan Rama. Aku hanya bisa berjalan diantara langkah-langkah kaki disekitarku, di bawah payung merah jambu bermotif beruang yang Rama berikan sebagai hadiah valentine tahun lalu. Dan dalam situasi seperti sekarang, aku ngerasa Rama selalu menemani langkahku. Jadi aku nggak ngerasa sendiri, hanya saja...
Pasangan sejoli yang lalu lalang dihadapanku selalu menyiksa batin ku. Makan bareng, bercanda bareng, main air bareng dikala hujan, itu semua membuat ku iri. Disitu aku ngerasa nggak jauh beda dengan seorang jomblo, meski hati ku terikat oleh Rama yang jauh di sana. Mungkin aku hanya butuh bersabar.
Kesibukan kerjaan kita membuat aku dan Rama tak sesering dulu dalam berkomunikasi. Rama memang tipe cowok romantis, tapi belakangan aku ngerasa dia berubah. Mungkin dia emang bener-bener sibuk atau mungkin dia....tak peduli dengan ku dan ketemu sama cewek lain? Amit-amit, jangan sampe aku berpikir gitu, kita kan udah saling janji dan aku pun bener-bener ngejaga hati ini selama 5 taun hanya untuk Rama seorang, kalo ini bener-bener terjadi, itu artinya semua perjuangan dan pengorbanan ku selama ini cuman sia-sia dong. Oh no!!
“Ram, aku merindukanmu sayang”, aku mengirimnya SMS.
No replay until about 5 hours. What is it mean?
“Melodi ndut ku yang tersayang, seberapa kangennya kamu sama aku? Paling juga nggak bisa ngalahin rasa rinduku ke kamu.” Balas Rama yang selalu meruntuhkan pikiran negatifku.
Jam pulang pun tiba, dan aku segera bergegas untuk pulang berharap bisa skypyan dengan Rama. Tapi Rama off, dia pun tak membalas SMS ku. Nomornya nggak aktif. Aku pun gelisah hingga malam pun tiba. Ku baringkan badan ku di atas kasur berbalut kain sepray warna jingga bermotif bunga. Kegelisahan ku semakin bertambah ketika hujan turun dengan sangat derasnya. Handphone ku berdering dan terlihat jelas nama RamSa di sana, Rama Sayang. Dia di depan rumah dengan membawa payung birunya.
picture by favim.com
Thanks for trusting and waiting me, Honey. Will you marry me?” Rama memayungiku dan menunjukkan sebuah cincin untuk ku.
Of course..


He’s Still My Choice

picture by http://favim.com/
 Long Distance Relationship atau yang sering disebut dengan istilah LDR sering terkesan menyedihkan. Namun bagiku LDR adalah suatu anugrah. Yah, anugrah karna aku masih bisa mempertahankan hubungan ku dengan Andra sampai sekarang. Tak mudah memang, tapi kita yakin kita bisa melewati itu semua asal kita perjuangin semuanya bersama.

Andra Prawira Putra, cowok yang paling berharga dihidupku setelah Ayah dan Kakak ku. Meskipun Andra mungkin bukan cinta pertama, kedua, atau pun ketiga buat aku, tapi aku yakin dia adalah cinta terakhir ku. Aku selalu berdoa untuk itu. Melabuhkan cinta ku hanya kepada Andra. Cinta kami mulai bersemi di masa putih-biru dimana banyak orang yang menganggap cinta dimasa ABG labil yang lagi puber ini dengan sebutan cinta monyet. Tapi Aku, Melodi Gita Amarta dan Andra Prawira Putra sepenuhnya percaya, cinta kita bukanlah cinta monyet, karna kami emang bukan monyet. Kita udah yakin kalo cinta kita bisa diperjuangin hingga berakhir di pelaminan.

Aku dan Andra pertama kali kenal di kelas VIII. Saat itu kita berada di kelas yang sama, VIII A. Di kelas favorit dan yang dibilang unggulan ini Aku dan Andra dipertemukan oleh suratan takdir yang entah sejak kapan Tuhan menulisnya, aku tak tau. Yang aku tau, Andra adalah sosok yang menawan sejak awal pertemuan. Senyuman manisnya, tatapan mata hangatnya, semua membuat cewek yang ngeliatnya terpikat seketika oleh cowok tinggi putih yang santun itu. Hingga pertengahan semester ganjil, Andra sering diam dan tak suka bergaul dengan yang lain, berbeda denganku. Kita mulai dekat sejak tugas kelompok yang pada awalnya memaksa kita untuk saling bekerja sama dan mengenal lebih dekat. Sejak saat itu kita berdua semakin dekat dan Andra tak sependiem sebelumnya.

Siang itu, setelah jam istirahat selesai, para siswa berlarian menuju kelas masing-masing dan pelajaran pun segera dimulai kembali. Ketika aku ngebuka tas, ada sepucuk surat warna pink. Aku segera membukanya ditengah mata pelajaran. “Yang bener aja, ini surat dari.....Andra. He said that he love me??” Unbelievable, kita jadian sepulang sekolah dan kisah cinta ku bersama Andra dimulai dari sini.

Andra mulai banyak temen dan pinter bergaul, secara pacarnya kayak aku gini. Meskipun SMA kita berbeda, tapi kita masih sering jalan bareng. Minimal 2 kali seminggu, itu wajib. Orang tua kita udah saling mengenal dan kisah cinta kita semakin hangat. Belakangan Andra sering sibuk sama Karya Ilmiahnya. Meskipun aku selalu menyemangatinya, tapi aku juga sering cemburu sama kerjaannya itu. Tapi tak apa lah, kita masih punya kegiatan bersama juga. Ngeband..

Kalo kebanyakan cewek jadi vokalis, aku lebih suka buat jadi gitarisnya. Karna pacar lebih pinter nyanyi daripada aku. Sering aku dibikin cemburu sama fans-fansnya Andra, tapi yang bikin aku makin bangga sama pacar, dia selalu nggandeng aku pas di tempat manggung. Jadi fans-fansnya pada tau kalo Andra milik ku. Yeaaaah....

Tahun pun selalu berganti dan aku dan Andra akan segera melepaskan seragam putih abu-abu dan kita mutusin buat kuliah di universitas sama dengan ku, di Jogja. Sekitar 5 tahun kita bersama dan tak terpisahkan, tapi menginjak semester 6 Andra memutuskan untuk mengikuti seleksi double degree ke luar negeri dan pacar kesayangan ku lolos. Itu artinya kita harus berpisah untuk sementara. Akhirnya aku harus ngerasain yang namanya LDR. Aku pasti kangen banget sama pacar. Ntar kalo dia disana kecantol bule gimana? Terus kalo nanti pacar sibuk dan nggak pernah ngabarin? Kalo aku kangen? Aaaaa....aku nggak pengen jauh dari pacar, tapi ini demi kesuksesan pacar. Yah, aku harus selalu mendukungnya.

Tanggal dimana LDRan kita dimulai udah tiba. Sebulan awal sangat menyiksa bagi ku, tapi bulan-bulan berikutnya lebih menyiksa. Andra yang sering sibuk bikin aku lebih banyak ngerasain kesepian. Aku yang masih suka ngeband ini harus menggantikannya sebagai vokalis. Itu tak masalah bagi ku tapi perhatian Ardy yang berlebihan membuat ku nggak nyaman. Alih-alih ngehibur dan ngejagain aku selama Andra pergi, Ardy yang juga sahabat Andra itu sering menemaniku kemana pun aku butuh temen. Tapi aku sadar, aku harus memepertahankan cintaku kepada Andra yang udah hampir 7 taun kita jalani. Tapi aku ngerasa beda sama Ardy. Rasa deg-degan tiap kali aku di deket Ardy membuat aku semakin takut nyakitin Andra, terlebih gosip kalo Ardy suka sama aku. Tuhan, tolong aku. Perasaan macam apa ini?

Aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Udah lama aku nggak ngerasain rasa seneng yang sekarang ini aku rasain. Bahkan aku lupa, kapan terkhir kali ngerasain deg-degan tiap kali bersama Andra. Tapi 7 taun ini nggak mungkin aku sia-siakan. Perasaan bingung ini hampir membunuhku dan aku memutuskan untuk menceritakan semua ini kepada Andra. Aku nggak mau bohong ke pacar, aku nggak mau ngecewain dia, meski aku tau kalo dia juga nggak kalah kecewa mendengar kejujuran ku. Tapi setidaknya dia tau perasaan ku dan dia akan menyuruhku untuk bagaimana.

http://dunzo.net/
Tak sesuai harapan. Andra hanya mengatakan ini semua murni pilihan ku. Mau bertahan dengan pacar yang selalu sibuk dan jauh, atau Ardy yang dekat dan selalu memberi perhatian lebih. Aku semakin bingung dan aku memutuskan keluar dari band selama Andra nggak ada dan menjaga jarak dengan Ardy. Meskipun kejujuran ku membuat Andra nggak yakin dengan ku, tapi aku nggak mau ngekhianatin cinta kita. Andra semakin cuek, tapi aku hanya bisa bertahan dan nggak mau menyesali keputusanku. Sore itu mama Andra menelpon, tante bilang kalo tante pengen jenguk Andra ke Ausie dan mengajak ku. It’s really a good news. Setibanya di sana, Andra menyambut ku dengan seikat bunga mawar putih dan pelukan hangatnya. Aku nggak akan pernah meninggalkannya, pacar.


Minggu, 13 April 2014

Love at First Sight

Berawal dari pameran buku di kota Semarang. Aku, Vea Yuri Aska, bareng temen kos aku, Nindi Atika Permata berniat buat gabung di acara pameran buku itu. Bukan karna keinginan dapet julukan si kutu buku cuman emang iseng aja kali aja nemu cowok yang cocok. Dikiranya pameran cowok? Nggak lah, buku yang cocok maksudnya. Jujur, aku bukan tipe orang yang doyan baca buku, cuman nggak jarang juga aku baca-baca buku gitu. Ntah novel, ntah buku motivasi, ato pun buku kuliah aku. Karna kalo aku nggak ngebaca tuh buku, aku bakal dapet IP yang so aweful.

Sesampenya aku sama Tika di Gedung Wanita Kota Semarang tepatnya di Jl. Sriwijaya, aku langsung berburu buku. Tapi sebelum itu biar dibilang gaul, aku ama Tika selfie dulu dong. Yaeyalah, muka-muka kita, HP-HP kita, sah-sah aja dong. Toh kita kan butuh foto juga buat diupload di instagram sama Path. Nggak kayak kamu, punyanya bukan Path tapi muka kayak pet. Ups,...sengaja.

Well to the well well, aku anak alay yang ngerasa udah tua tapi tetep punya muka unyu langsung capcus ke tempat buku-buku TOEFL. Soalnya disemester tua dengan muka sangat amat muda ini aku harus mempersiapkan diri buat syarat kelulusan aku, ya salah satunya belajar tes TOEFL ini. Yah, walo nyicil beli doang sih, nggak niat buat baca, apalagi ngerjain latian soalnya.

Tika yang ambil jurusan kependidikan pun nangkring di bagian buku yang nawarin berbagai macam buku berbau pendidikan. Pameran buku ini nawarin buku yang murah-muran. Lewat pameran ini, aku bisa dapet buku yang harganya cuman 15.000. WIB tipe buku ini adalah buku novel. Aku nggak nyangka, dengan cuman ngeluarin duwit 15.000, aku bisa dibikin bercucuran air mata.

Eits...jangan bilang kalo aku cengeng, karna itu bukan aku. Orang boleh bilang aku anak galau karna walo aku nggak galau-galau amat akibat kelamaan jomblo tak berkesudahan, tapi menurut aku kegalauan adalah sebagian dari kegaulan. Dibalik itu semua aku adalah tipe cewek yang susah nangis. Orang yang bisa bikin aku nangis itu bener-bener orang yang hebat. Jadi beruntunglah kamu yang udah berhasil bikin aku nangis kayak novel ini.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 Waktu Indonesia Bagian Semarang. Dan nggak ngerasa kita udah ada di dalam Gedung Wanita ini 2,5 jam. Waktu yang singkat untuk narsis di sana. Berhubung aku muslim, aku harus shalat dong? Aku kepikiran buat langsung balik ke kos yang nggak ada 30 menit aku sampe. Cuman masalahnya aku mau langsung makan karna udah keburu laper. Untuk itu aku sama Tika mutusin buat shalat di luar agar perjalanannya udah tenang. Terpilihlah mushola di tempat les yang nggak jauh dari lokasi pameran buku sebagai tempat kita shalat. Jodoh tak kan kemana dan tulang rusuk takkan tertukar.

Aku nggak nyangka aku bakal ketemu sesosok pria yang menurut aku dia calon imam aku banget. Aku yakin, aku adalah tulang rusuk dia. Yah, dia imam ku di masa depan.
Ketika aku sedang bersiap memakai mukena, cowok itu aku liat ngambil air wudlu. Jadi aku sama Tika mutusin buat nunggu doi masuk dan kiat shalat berjamaah. Setelah sang pujaan hati aku (tepatnya aku sama Tika, karna Tika juga naksir sama doi) masuk ke dalam mushola, aku ama Tika yang sama-sama nggak malu minta tu cowok jadi imam, cuman bisa senyam-senyum merhatiin muka cowok itu yang beuh, bikin kita melting. Tapi karna diantara kita aku yang pemberani, aku lah yang maju, “Mas jadi imam ya, Mas??”
Dengan nada lembut tapi tegas, doi menjawab, “Iya, nunggu temen ku bentar ya, Mbak”.
Dalam hati, aku nyalahin diri sendiri, napa tadi aku mintanya doi buat jadi imam doang, bukan imam aku.  Secara kalo aku bilang mau nggak jadi imam aku, doi bakal jawab iya ato tidak dong? Wah, payah nih aku.

Seusai shalat berjamaah doi keluar dari mushola bareng temennya terlebih dulu, sedangkan aku masih sibuk benerin rambut aku di dalem mushola.

Nah kan tebakan aku bener, doi itu calon imam aku. Pas aku sibuk benerin sepatu dalam posisi berdiri, doi nolongin aku pas hampir jatoh gara-gara kesenggol sama tIka. Aku sih nggak nyalahin Tika, malah aku makasih banget sama doi. Soalnya berkat dia aku ddiajak kenalan sama doi.

Nggak nyangka, dia mahasiswa di kampus ku juga. Cuman kita nggak sefakultas. Aku anak Ekonomi sedangkan doi adalah anak Teknik. Sbenernya dari tmpangnya sih nggak terliat kalo doi anak teknik, cuman aku percaya aja deh. Lagian doi juga cowok banget. Tegas dan humble. Nggak nyampe di situ doang, aku langsung tukerab PIN BBM ke dia.
Tanpa harus menunggu waktu lama, aku BBMan sama doi semaleman. Dan mulai hari itu, doi suka ngajak ngampus bareng pas jadwal kuliah kita sama. Sayangnya aku nggak bisa berangkat les bareng doi, soalnya jadwalnya beda sama aku. Tapi walo pun kayak gitu, aku masih bisa sering jalan bareng sama doi. Ayey...

Semua berjalan mulus dan malam itu Nathan ngajak aku buat nonton di XXI. Nathan Alatas Saputra adalah nama calon imam aku dimasa depan itu. Soalnya kebetulan bulan ini banyak banget film terbaru yang keren-keren. Pas kita nyampe bioskop, aku ketemu sama Dion temen les aku. Ya aku emang bukan cewek yang smart kayak kebanyakan temen-temen aku. Jadi aku cuman bisa les, padahal pada umumnya temen-temen aku ngelesin buat nambah uang jajan mereka. Bukan karna aku anak orang kaya, cuman kakak aku bilang ke aku pas aku bilang pengen kerja part time, “Ngapain ngelesin? Daripada ngelesin mending kamu yang les. Kecuali kalo kamu emang bener-bener nggak ada duwit dan ganggu proses kuliahmu, sedangkan sekarang? Loe kan lancar-lancar aja kan? Intinya penting cukup deh, fokus kuliah dulu”. Dan aku cuman bisa ngeiyain aja.

Dion, sosok cowok periang yang hangat dan ramah sama semua orang. Dion sering juga curhat soal apa pun ke aku terlebih soal pacarnya. Walopun Dion baru SMA, dia itu udah keliatan smart banget. Sebenernya sih dari awal ketemu dia, dia bikin hati aku berbunga-bunga banget. Secara dia mikir aku masih SMA dan aku bisa ketemu cowok seganteng, seimut, sepinter, dan segagah dia. Dion punya postur tubuh yang oke banget. Bisa dibayangin kok gimana dia, cukup dengan liat kebanyakan para paskibraka kayak gimana. Cuman dia punya kulit putih bersih dan rambut yang kece banget deh pokoknya.

Malam itu dion nonton bareng temen-temen sekolahnya dan di situ aku dikenalin ke temen-temennya. Nggak lupa aku ngenalin Nathan ke Dion dan temen-temennya. Kebayang kan gimana anak SMA kalo liat cewek sama cowok jalan bareng? Aku sama Nathan pun dicie-ciein abis-abisan. Dalam hati aku berkata, “Kamu sih, nggak mau nembak aku duluan. Keburu diserobot orang kan. Eh, tapi aku kan belum jadian juga sama Nathan. Oooo...”

Malam semakin larut setelah kita nonton film ala remaja banget itu. Aku pun pamit ke Dion karna harus balik duluan. Soalnya nathan udah ditelfonin adeknya mulu gara-gara nitip BreadTalk. Nathan pun nganterin aku balik ke kos dengan jazz warna hitam berstiker Conan di belakangnya. Pas aku mau keluar dari mobil, tiba-tiba dia narik tangan aku dan memasangkan sebuah gelang warna merah, sama dengan gelang yang dia pake. Aku nggak ngerti apa maksud Nathan, karna menurut aku, ini terlalu cepat.

“Ve, anggap aja ini awal dari keseriusan aku ke kamu. Ya mungkin kita baru kenal cuman aku harap kamu nyaman selalu ada deket aku”, jelas Nathan.

“Iya Nat, aku juga nggak mau jita terlalu cepet. Nikmatin aja hubungan kita yang kayak gini dulu, sekalian saling mengenal (padahal aku pengen langsung say yes, secara dari awal aku udah berharap banget ke Nathan)”

Nathan pun balik ke rumah, karna dia anak asli Semarang, bukan anak rantauan kayak aku. Setiba di rumah, Nathan BBM aku, “Ve, aku udah sampe dengan selamat. Kamu cepet bobog, see you tomorrow, sweety. Hati ku juga selamat kok, aman terjaga cuman buat kamu.”

“Gombal banget, Nat....ampun dah”.

“Jujur kali, Ve, bukan gombal”.

“Iyelah, ayo bobog”.

Udah sebulan kita jalan bareng. Siang itu aku harus berangkat les, jadi aku nggak bisa nemenin Nathan ke kos temennya. Sepulang les aku nggak nyangka banget, Nathan ngasih surprise aku. Dia udah ada di depan tempat les aku. Aku ngeliat mobilnya dari lantai 2, aku lansung turun dan nyamperin dia. Sayangnya, kejutan ini membuat ku sangat kecewa. Aku ngeliat dari belakang, Nathan pegangan tangan sama seorang cewek. Dan aku ngurungi niat aku buat nyamperin dia.

Sejak itu, aku nggak pernah bales BBMnya Nathan. Dia sering juga maen ke kos, tapi males nemuin dia. Dua minggu abis itu, aku nggak sengaja ketemu sama Nathan di kampus. Cuman aku masih aja males ketemu dia. Dan aku nyoba buat nyuekin Nathan. Tapi Nathan tiba-tiba berlari ke arah aku, berusaha ngejelasin ke aku dan aku nggak mau dengerin apapun penjelasan Nathan.

Nathan maksa aku buat balik bareng dia, tapi aku nolak. Dia narik tangan aku ke mobilnya. Ngeselin!!!

“Apa-apaan sih Nat? Nyebelin....kamu nyebelin”.

“Aku nggak tau kamu kenapa, tapi kamu harus tau aku tulus sama kamu”.

“Tulus? Are you kidding me? Gimana soal cewek pas di tempat les maren, sehari abis kita dari bioskop?”

“Cewek? Apa mungkin....Vina?”

“Mana aku tau, orang kamu nggak ngenalin cewek itu ke aku!”

“Well, aku baru ngerti sekarang. Kenapa kamu bersikap kayak gini ke aku. Cewek itu bernama Vina. Vina adalah mantan gue. Kita pacaran dari SMA, tepatnya kita udah 3 taun pacaran. Hingga akhirnya dia mutusin gue karna cowok lain”.

“Trus, emang gue peduli gitu? Ngapain juga kamu jelasin itu ke aku? Toh aku bukan siapa-siapa mu”, jawabku dengan nada agak keras.

“Mungkin kamu nggak nganggep aku spesial, tapi berbeda dengan ku. Kamu spesial dihidupku. Sejak shalat berjamaah di tempat kita les siang itu, aku ngerasa jantung ini berdetak cepat tak seperti biasanya. Ntah lah, aku nggak pernah ngerasin perasaan ini sebelumnya. Mungkin kamu bilang aku gila cuman aku berdoa setelah kita shalat berjamaah buat dipertemukan lagi sama kamu, terlebih buat punya jadwal yang sama pas les. Tapi sayangnya, Allah berkehendak lain dan mempertemukan kita di tempat lain dan lebih sering bertemu, kampus”.

Aku ngeliat mata Nathan yang berkaca-kaca. Dia terlihat tulus dan berkata jujur, tapi...,”Terus kenapa pake pegangan tangan kalo kamu bilang dia cuman mantan? Terus ngapai kamu jemput dia di tempat les. Kamu kan tau aku ada jadwal hari itu. Sengaja mau pamerin ke aku kalo kamu punya pacar yang modis, seksi, tajir dan cantik kayak dia?”

Dia menatap ku dan tersenyum sambil mencubit pipi chubby ku, “bukan ketemu Vina tapi kamu. Niatnya aku mau jemput kamu, ngasih surprise ke kamu. Tapi tiba-tiba dia nongol dan megang tangan aku. Koplaknya lagi, si Vina bilang pengen balikan lagi sama aku. Cowoknya selingkuh katanya. Males banget, aku kan udah ada kamu. Cewek yang jauh lebih baik daripada dia”.

“Sakit, nanti makin mbem (dibaca = tembem)...”, aku melepaskan cubitan Nathan dari pipi ku. “Kamu nggak boong kan?”

“Nggak, suwerrrr. Oh ya, tadi kamu bilang kamu bukan siapa-siapa aku kan? Emang maunya kamu, kamu pengen jadi apa ku? Hayo ngaku....hayoooo ”.

Muka ku memerak seketika. Dan Nathan tiba-tiba membuka daskboard mobilnya dan mengambil kotak kecil berwarna hitam, “Will you marry me???

Secepat ini kah? Mimpikah aku?? Aku tak bersuara dan hanya menatap kotak berisikan sebuah cincin warna putih yang berkilau seakan tak percaya.

“Ve, I love you so. Mungkin ini terlalu cepat bagi mu tapi, aku ingin kamu tau aku serius ke kamu. Mungkin aku belum bisa memberimu nfkah, hanya janji yang tak pasti kapan aku tepati tapi, aku mohon kamu berkenan untuk memberikan setidaknya 20% kepercayaan kepada ku. Agar aku punya kesempatan buat mengubahnya menjadi 80%. Karna kamu hanya boleh percaya 100% kepada-Nya. Kita coba serius menjalani ini semua, menikmatinya, tapi tak menyalah artikannya agar kita bisa tetep fokus sama kuliah kita dulu. Nabung buat masa depan kita bersama”.
source: brimhalleyecenter.com

Aku hanya bisa mengangguk-angukkan kepalaku dengan penuh semangat dan tetesan air mata penuh keharuan melengkapinya.

Masa depan ku telah benar-benar dimulai secara nyata. Aku yang udah ngerasa bertepuk sebelah tangan (sudah biasa), diinggal tanpa alasan (sudah biasa) #Terlatih Patah Hati-The Rain feat Endank Soekamti ngerasa bener-bener bersyukur kepada Allah yang telah menemukan ku dengan imam terbaik ku. Imam bagi ku dan anak-anak ku kelak. Hanya tinggal menjaganya untuk esok hari, kita dihalalkan. 




Selasa, 08 April 2014

Metamorfosis si Cupu

picture by rubrikita.com

At first, gue mau ngenalin diri dulu. Panggil aja gue Sesil. My full name is Sesilia Fitri Damayanti. Dulu gue anak yang minderan dan cupu abis. Terlebih waktu gue SMA, yang saat itu gue ngalamin yang namanya sweet seventeenth. Itu titik dimana metamorfosis tahap pertama gue dimulai karna tanpa gue sengaja ada seseorang yang bikin hati gue melting. Padahal caci maki temen-temen sekolah gue sejak SD sampai SMA kelas X tak membuatku berpikir sama sekali buat berubah. This is my story..

Masa Orientasi Siswa (MOS) angkatan tahun 2011, SMA CAHYA PURNAMA pun dimulai. SMA yang berlokasi di tengah kota ini merupakan salah satu SMA favorit di daerah ku. Aku, Yanti adalah anak yang tidak memiliki keahlian khusus apa pun, tidak pintar bergaul, dan bukanlah seorang gadis yang cantik, melainkan bisa dikatakan buruk rupa. Bukannya aku mau menjelekkan diri sendiri, tapi inilah kenyaaan. Rambut lurus ku yang selalu aku kuncir kuda, poni yang menutup alisku, baju seragam kedodoran yang kukenakan, dan kacamata kuda yang aku pakai bukan karna ingin disebut sebagai kutu buku melainkan hanya karna alasan kenyamanan ku tuk memakainya ini membuat ku semakin terlihat aneh dimata teman-teman sekolahku yang 98% adalah anak orang kaya yang tinggal di kota besar yang merupakan ibukota negara Indnesia kita tercinta, Jakarta.

Semua tampilan visual ku yang aneh dimata teman-teman ku ini, membuat ku semakin sulit tuk membaur dengan mereka. Tapi aku sangat bersyukur karna masih ada seorang sahabat yang aku kenal dihari Senin, kala MOS menginjak hari pertama, Nurida Permata. Nuri adalah anak yang ceria, canting, tinggi semampai dan terlihat cerda, serta mudah bergaul. Meskipun demikian, Nuri bukanlah gadis yang suka pilah-pilih soal pertemanan. Karnanya aku merasa lebih tenang karna setidaknya aku memiliki sosok teman yang akan membimbing ku untuk tidak sebodoh waktu SMP.

Mungkin kata bodoh ini lebih tepat diganti dengan kata idiot karna sikap ku yang selalu diam dan memilih menghindar ketika diolok-olok teman ku semasa SMP. Yah, itulah nasib orang cupu seperti ku. Tapi aku tak mempermasalahkan semua itu. Karna Bunda selalu bilang kepada ku agar senantiasa fokus agar bisa sekolah favorit di daerahku, SMA CAHYA PURNAMA secara gratis. Demi mewujudkan keinginan Bunda dan Ayah, aku tidak akan menyerah hanya karna ini semua yang hanya diibaratkan sebagai kerikil kehidupan saja.

Hari ketiga MOS telah tiba. Hari terakhir ini adalah jadwal setiap kelas mementaskan bakat mereka di atas panggung yang telah disiapkan oleh kakak-kakak panitia. Hari ini aku tampil sebagai pemeran pembantu, sedangkan Nuri menjadi pemeran utamanya. Kelas kami menampilkan drama percintaan yang saangat terkenal, Romeo and Juliet. Dan aku, si Cupu hanya bisa bermimpi suatu saat bisa menjadi pemeran utamanya, bahkan pemeran utama di kehidupan nyata. *Tepuk tangan teman-teman menyadarkan lamunan ku.

Giliran perwakilan panitia menampilkan bakat mereka. Saat itu mereka menampilkan berbagai macam karya antara lain musik, tarian dan treatrikal. Penampilan solo dari salah satu kakak panitia yang belum aku ketahui itu membuatku terpesona untuk pertama kalinya. Alunan musik yang merdu dengan keliahaiannya memetik senar gitar akustik itu seakan membuat jantung ku tak henti tuk berdetak sekuat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Senyumaman bibir tipisnya yang manis dan tatapan matanya yang redup seakan menghipnotis seluruh peserta MOS untuk tidak berkedip melihatnya di atas sana, tak terkecuali aku.

Sesekali aku mengedipkan mata seakan berpikir ini semua hanyalah mimpi yang tak ingin aku akhiri. Tapi sayang, sekali lagi, tepuk tangan teman-teman menyadarkan ku. Momen itu pun berlalu secepat yang sudah ku duga. Dan akhirnya mulai lah kegiatan belajar mengajar ku lagi yang monoton dan membosankan. Rumah, sekolah, kelas, mushollah, kantin, dan ruang guru. Begitu seterusnya. Tapi setidaknya, kali ini aku ke kantin tidak sendirian, karna ada Nuri. Kami selalu bersama kemana pun. Setiap kali anak-anak di sekolah mengganggu dan mengejekku, dia menjadi orang pertama yang membelaku dengan memarahi mereka. Tak terkecuali kakak kelas kami.

Siang itu kami berjalan menuju kantin. Seperti biasa kami harus melewati lorong kelas XI IPA. Aku selalu menundukkan kepala ku setiap kali melewati lorong yang menurut ku lorong yang membuatku sangat malu dan minder. Karena anak IPA identik dengan kepintaran dan kecerdasannya, disisi lain mereka sudah kelas XI dimana mereka 2 taun lebih tua di atas ku. Tiba-tiba langkah kaki ku terhenti dan lutut ku menempel ke lantai karna tersandung sesuatu. Benar saja perasaan ku, aku menyandung kaki. Seketika Nuri meneriaki kakak tersebut dengan lantang tanpa getar, “Kak, yang sopan dong kalo sama cewek. Masak kakak kelas bukannya bimbing adeknya tapi malah ngerjain!!” “Udah, Ri. Aku yang salah nggak liat-liat”, jawab ku dengan menahan rasa perih dari lutut ku yang terluka. Kami pun melanjutkan langkah menuju kantin dan berencana ke UKS setelah selesai makan untuk mengobati luka ku itu.

Sementara kakak kelas yang menyandung ku tadi hanya bisa terdiam heran dengan keberanian Nuri yang dengan lantang memarahinya barusan. Tiba-tiba suara lembut seorang laki-laki memecah keramaian saat itu. Dan sepertinya aku mengenal suara tersebut. Suara kakak panitia MOS yang mebuat ku terpana karna suara dan kepiawaiannya memainkan gitar. Dari kejadian itu aku bersyukur karna bisa mengetahui namanya tanpa sengaja, Destian Nanda Pratama. Tapi aku tidak ingin terlalu bahagia dengan memilingi angan-angan yang tinggi. cukup dengan tau namanya.

Sekolah pun berakhir dan kami semua kembali ke rumah masing-masing. Aku yang selalu naik bus menuju tempat tante ku yang menjadi tempat tinggal sementara ku ini harus berpisah dengan Nuri yang selalu dijemput oleh sopir pribadinya. Tidak heran, dia memang anak orang kaya.

Tiba di rumah aku memainkan HP jadulku yang tidak kalah jadul dengan pemiliknya ini. Herannya aku dapat SMS dari nomor tak dikenal yang seletah aku baca dia ngajak kenalan. Karna aku masih bingung dan tak percaya, aku tidak membalasnya. Keesokan harinya sekitar pukul 05.00 WIB dering handphone ku membangunkanku. Yang benar saja, nomor semalam. Karna saya tidak suka diganggu nada dering terus menerus yang membangunkan ku, terpaksa aku mengangkatnya. Sangat tidak terduga aku mendengar suara seorang laki-laki yang lembut dan mengatakan, “Bangun Sil, shalat dulu”. Seketika aku membelalakkan mata ku yang tadinya masih penuh rasa kantuk tanpa mengucapkan kata apa pun hingga akhirnya panggilannya disconnect. Dan aku pun beranjak dari tempat tidur dan bergegas mengambil air wudlu.

Setelah kejadian pagi itu aku sering melamun dan penasaran dengan laki-laki yang membangunkan dan mengingatkan ku untuk shalat pagi itu. Tapi sayangnya, hal itu selama seminggu tak terjadi lagi dan aku pun tak berani mengirimkan pesan kepadanya hingga akhirnya tibalah hari itu.

Kakak kelas yang kemaren membuat lutut ku terluka tiba-tiba menghampiri ku ketika aku duduk sendiri di bangku bawah pohon sambil membaca buku novel karangan penulis idolaku. Dia meminta maaf atas kejadian kemarin, “Sorry banget ya soal kemarin, sumpah gue nggak sengaja. Gue ngerasa bersalah sama lu. Siapa nama lu? Sesil ya?” “Iya kak, Yanti tepatnya, tidak apa-apa kok. Toh paling lukanya cepat sembuh”, jawab ku. “”Oh, syukur deh kalo gitu, cantikan dipanggil Sesil lagi, lebih gaul juga. Lu nggak usah kaku banget gitu sih sama gue”. “Hmm, iya deh Kak. Kak siapa ya? Maaf belum kenal soalnya.” “Oh, Nata, panggi aja Nata. Oke see you”, Kak Nata pun berlari menjauhi ku. Dan aku tiba-tiba teringat nomor tak dikenal kemarin. Dia memanggilku dengan nama Sesil, padahal di sekolah semua orang yang mengenalku memanggilku dengan nama Yanti. Meskipun aku penasaran, tapi aku tidak pernah berani untuk mencari tau siapa pemilik nomor tak dikenal itu. Lagi pula sejak pertama dan terakhir itu, tak ada lagi pesan atau pun panggilan dari nomor itu lagi.

Rabu, pukul 09.00 WIB. Jam pelajaran penjasorkes dimulai. Siswa kelas XD, XI IPA 4, dan XII IPA 4 membaur di lapangn basket dan berbaris rapi dalam barisan kelas masing-masing. Tak lama berselang para guru olahraga datang dan memberikan intruksi kepada kami kelas XD untuk bermain voli. Sedangkana kelas lain mendapatkan intruksi lainnya dari guru masing-masing. Dan aku yang tudak menyukai olahraga voli hanya bisa menikmati rasa sakit dan merahnya tangan ku. “Bugg....”, tiba-tiba bola basket mengenai kepalaku. Dengan mata agak berkunang, aku melihat sesosok laki-laki tinggi yang tak terlihat jelas wajahnya.

“Sesil lu nggak pa-pa?”, tanya laki-laki itu.
Dalam hati aku bertanya, jangan-jangan diaaaa....benar saja, wajahnya mulai terlihat. Kak Nata.

“Sesil, hallo, lu nggak pa-pa? Ayo sini gue bantu ke UKS. Sorry banget ya, ini kedua kalinya gue nyelakain lu”, ucap kak Nata sambil menuntun ku menuju UKS. Tapi aku pun masih terdiam, ntah lah, antara menahan rasa pusing di kepala ku atau bingung karna nama Sesil yang aku dengar dari mulut Kak Nata.

Sesampainya di perpus, Kak Nata terlihat begitu bersalah terhadap ku. Dia menunggui ku hingga rasa pusing di kepala ku ini benar-benar menghilang. Dan sejak saat itu dia selalu memperhatikan ku. Tak hanya itu, Kak Nata sering menjemput ku ke sekolah dan mengajak aku keluar bersama.

Malam itu malam minggu. Malam itu Kak Nata mengajakku pergi ke XXI di salah satu mall di kota tempat ku tinggal sementara. Saat itu aku yang sedang fokus menonton film romantis yang sedang diputar dilayar lebar, tiba-tiba dikagetkan oleh lelaki di sebelahku itu. Yah, itu lah Kak Nata. Kaget yang dia ciptakan membuatku mengabaikan film yang sedang ramai dibicarakan para remaja di Indonesia. Bunga di depan mataku. Bunga mawar merah yang masih segar dan memiliki aroma yang menenangkan. Bunga mawar adalah lambang kasih sayang. Tapi meski demikian aku yang cupu ini tidak berani berpikir macam-macam.

Aku berusaha untuk tidak mengartikan semua sikap Kak Nata sebagai sikap yang memiliki arti khusus. Hingga akhirnya dia mengatakan hal itu, “Sesil, aku sayang sama kamu. Mau kah kau jadi pacarku?”

“Ta..ta..tapi, Kak”, aku  pun sangat terkejut dan menjawabnya dengan terbata-bata.
“Kenapa? Aku tau aku mungkin nggak pantas buat kamu. Kamu pintar dan liat aku (dia meletakkan kedu tangannya di pipiku dan mendekatkannya ke wajahnya) aku hanya cowok bodoh yang nggak bisa apa-apa, nggak bisa dibanggakan sama sekali”.

Aku mencoba menata omonganku agar lebih jelas didengar,”Bukan itu Kak, tap lebih aku yang nggak pantas buat Kakak. Aku cupu, sedangkan Kakak? Kapten basket di sekolah yang disukai banyak cewek cantik”.

“Aku hanya menyukai dan menyayangimu. Kamu tau kenapa? Karna kamu membuat ku nyaman. Bersikap biasa terhadapku, tidak memperlakukan ku secara khusus atau pun berlebihan. Perhatian dan kelembutan hati ku membuat ku tenang”, penjelasan yang mengharukan bagi ku dan membuat ku merasa ini semua adalah mimpi.

Sejak saat itu, si cupu selalu merasa lebih Pede dengan dirinya karna ada seorang cowok yang selalu setia di sampingnya. Melindunginya dari ejekan anak-anak yang iri karna bisa berpacaran dengan idola di sekolah ku ini. Tapi hal yang membahagiakan itu pun tak lama kurasakankan.

Malam itu ketika kita pergi bersama, tiba-tiba aku mengingat nomor yang membangunkan ku shalat subuh kala itu. Ntah mengapa tapi hal itu tiba-tiba mengganggu pikiran ku dan membuatku penasaran untuk menanyakan hal ini kepada Nata. Belum sempat ku menanyainya, dia menerima sebuah telepon dari seorang lelaki. Tak ku dengar apa pun, tapi dia terlihat sedih.

“Kenapa, Sayang? Apa ada masalah?”

“Nggak kok, Sayang. I’m fine”, Nata terlihat senyum tapi menyakitkan. Ntah lah...aku tak mengerti.

“Pulang yuk Sayang, aku masih ada PR buat besok”.

“Setengah jam lagi ya Sayang, aku masih pengen di sini sama kamu”, Nata terlihat sedikit aneh dan matanya menatapku redup.

“Iya, Sayang. Yang penting nggak kemaleman. Nggak enak sama orang rumah”.

Tiba-tiba Nata memeluk ku erat, “Makasih kamu selalu mewarnai hari-hariku. Aku sayang banget sama kamu. Mungkin kalo aku nggak ketemu Sayang, aku akan merasakan hidup ini tiada arti.”

“Ih, Sayang kenapa sih? Lebay deh”, aku pun melepaskan pelukan Nata dan mengacak-acak rambutnya.

Nata selalu menerimaku apa adanya. Meskipun aku tetap bertahan dengan dandanan cupu ku ini, dia tetap menyayangiku dan setia sampai sekarang.

Keesokan harinya, Nata tak berangkat ke sekolah padahal aku sudah menunggunya hingga jam 06.50 WIB. Biasanyanya kami berangkat bersama pukul 06.30 WIB. Terpaksa aku berangkat sendiri karna HP nya tidak bisa dihubungi. Saat jam istirahat tiba, aku segera mengajak Nuri untuk menemaniku ke kelas Nata. Tapi aku tak melihatnya. Salah satu teman di kelasnya mengatakan dia tidak masuk. Tapi yang mengagetkan, teman kelas Nata yang lain, Kak Tama laki-laki yang sudah lama aku kagumi sejak sebelum aku berpacaran dengan Nata itu mengatakan bahwa Nata pindah.

“Lho, lu nggak tau, Sil? Nata pindah sekolah mulai hari ini. Pas gue di ruang guru gue nggak sengaja ketemu Om Prima, papa Nata. Lu pacarnya Nata kan?”

“Iya sih, tapi....semalam Nata tidak mengatakan apa-apa, Kak”, tak terasa aku pun mengeluarkan air mata di pipi.

“Sebenernya gue juga kaget, Sil..tapi aku pun nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba pindah. Mending lu dateng ke rumah Nata deh. Tau kan lu dimana rumahnya?” ucap Kak Tama sambil memegang kedua pundakku.

“Iya Kak, aku udah pernah ke sana kok sebelumnya”, aku berusaha tenang dan tersenyum kepadanya. Ntah mengapa aku merasa sudah mengenal dekat Kak Tama.

Pulang sekolah aku segera mendatangi rumah Nata ditemani oleh Nuri. Di sana aku bertemu dengan tante Mira, mama Nata. Sebelumnya kami sudah saling mengenal karna Nata pernah mengenalkan ku kepada kedua orang tuanya. Namun aku tidak mendapakan penjelasan apapun kecuali surat yang dititipkan Nata untuk ku.

Dear : Sesilia Fitri Damayanti

Maaf ya Sayang, aku nggak pamit dulu ke kamu buat pergi. Sayang, bukannya aku ingin menghilang dari kamu secara kejam, hanya saja keadaan ini memaksaku buat pergi. Pergi dengan kesakitan ku yang lebih besar karna harus meninggalkanmu. Kamu harus percaya, aku cuman sayang sama Sesil yang cupu tapi berhati tulus. Aku cuman sayang sama Sesil hingga aku harus meninggalkannya dan memilih hidup dan pergi dari sisinya. Di negeri Kepala Singa ini, aku harus menghabiskan hidupku dengan segala teknologi kedokteran yang ada. Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi karna aku ingin selalu melihat senyuman manismu. Tapi kalo Tuhan berkehendak lain, aku hanya bisa mendoakan mu agar bisa senantiasa tersenyum bahagia. Aku menyayangimu sepenuh hati ku, hingga akhir hayatku. Ada atau pun nggak ada aku kamu harus senantiasa tersenyum. Aku ikhlas kalo pun kamu bahagia bersama orang lain. Oh ya, nggak usah khawatirin aku di sini. Doain aja ya Sayang, yang terbaik buat aku, kamu juga. Tama itu cowok yang baik lho.
                                                                                                            Always Love You,
                                                                                                                        Nata

Aku masih tidak mengerti jelas isi surat yang Nata berikan. Apa mungkin dia sedang sakit parah dan harus dirawat di Singapura. Dan kenapa tiba-tiba dia menyebutkan nama Tama. Hingga akhirnya aku tau setelah seminggu berlalu, tante Mira menelpon ku dan memberi kabar bahwa Nata telah tiada. Setelah itu aku baru menyadari, dia mengalami gagal ginjal. Karna dia selalu memaksakan fisiknya, keadaannya semakin parah dan tak dapat diobati lagi.

Rasa kehilangan dan tangisan yang selalu menemani malam ku berbulan-bulan ini membuatku teringat akan pesan Nata buat aku selalu tersenyum. Aku nggak mau bikin Nata kecewa di sana melihatku seperti ini. Aku harus bangkit, membuat Nata bangga karna aku sangat menyayanginya dan nggak mau buat Sayangku kecewa.

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat hingga akhirnya aku dan Nuri naik ke kelas XI. Sayangnya kami harus berpisah karna Nuri memilih masuk kelas Bahasa, sedangkan aku lebih memilih masuk di kelas IPA. Setaun telah berlalu sejak aku mengenal Nata dan sekaligus kehingannya setelah 3 bulan pacaran, serta setaun juga setelah nomor tak dikenal itu menderingkan nada di HP ku. Karna aku sudah hampir 17 taun, aku memberanikan diri untuk menghubungi nomor itu. Tapi sayangnya, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah hubungi beberapa saat lagi.” Nomornya tidak aktif. Sudah lima kali aku mencoba seharian untuk menghubungi nomor itu, tapi hasilnya nihil. Dan aku pun menyerah dan memutuskan untuk benar-benar melupakannya.

Siang itu ketika aku menanti kedatangan bus langgananku, Nuri tiba-tiba menarik ku ke dalam mobilnya dan mengatakan bahwa dia sedang sendirian di rumah, padahal nanti malam acara ulang taun kakaknya. Memang, meskipun kamu sudah tidak sekelas, kami tetap menjadi sahabat baik dan sering bermain bersama. Kedua orang tua Nuri memang para pebisnis yang sibuk sehingga dia sering sendirian di rumah, hanya bersama kakak laki-lakinya yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Saat itu juga aku pun mengirimi pesan kepada ayah dan bunda untuk pulang terlambat karna harus menemani Nuri. Nuri memang gadis yang pintar bergaul, namun dia tidak terlalu suka keramaian dan pesta-pesta. Jadi dia memilih untuk bermain sendiri di kamarnya bersama ku, sedangkan di lantai dasar rumahnya sangat ramai dengan canda tawa teman-teman kakaknya.

Ketika kami asik bermain play station tiba-tiba ada yang membuka pintu dan membawakan kami makanan. Dengan muka yang terheran-heran aku melihat Kak Tama. Dengan gugup aku hanya mengatakan iya ketika Kak Tama menyapa ku, “Hai, Sesil ya? Nih dimakan sama si Nuri biar maennya tambah asik”. “I, i, i, i..iy..iya, Kak”, jawabku tengan terbata-bata. Dia langsung keluar setelah melebarkan senyuman lembut dan manis dari bibirnya itu. Dan sialnya, Nuri memperhatikanku dan menggoda ku dengan Kak Tama. Tanpa mengatakan apa-apa Nuri mengakhiri permainan kami dan menarik tanganku di meja riasnya. Dia dengan bersemangat mendandani ku tanpa menjelaskan apa pun kepada ku. “Kamu mau ngapain aku sih, Nur? Kok dianeh-anehin gini muka ku?”, tanya ku dengan heran. “Udah deh, lu diem aja Yan. Eh, mulai sekarang lu jangan ngomong aku kamu lagi deh. Harus ganti sama lu gue. Dan satu lagi, nama lu pake yang depan aja. Sesil”, tegas Nuri. “Ri, kenapa tiba-tiba kamu kayak gini?? Emang apa yang salah dengan ku?”, tanya ku dengan masih terheran-heran. “Nggak salah apa-apa sayangku, cuman gue mau ajak lu ke bawah aja gabung bareng temen-temen kakak gue. Kali aja nemu yang bening. Hrrrrr...”, celotek Nuri sambil meringis.

Aku pun hanya bisa ngikut, daripada aku, eh aku sendirian di kamar orang. Kalo ada yang ilang, gue kena dong? Dan akhirnya kami keluar dari kamar dan bergabung dengan para tamu. Mulai dari hari ini, gue belajar jadi anak gaul seperti apa yang dibilang sahabat terbaik gue, Nuri. Sore itu gue pake gaun punya Nuri sekaligus dengan sepatu highhells yang bikin gue terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. Gue aja pas ngaca nggak nyangka kalo bayangan yang ada di kaca itu bukan gue. Tapi, it’s real Guys, it’s me. Pas kita lagi asik ngobrol sambil makan snack yang ada, tiba-tiba Kak Tama dateng dan give me a gift with sayying, “Happy birthday Sesil”. Nuri pun jalan ninggalin kita berdua sambil ngelempar senyumannya.

Gue gugup dan cuman bisa say thanks dan bertanya untuk apa ngasih hadiah gue toh gue bukan tuan rumah yang lagi punya acara birthday party. “Serius lu lupa hari ulang taun lu sendiri? Ini ulang taun asli lu bukan tanggal lahir di kartu tanda siswa  lu.” “Astaga, sumpah gue lupa, ini serius tanggal ultah asli gue. Karna emang tanggal di KTS dan ijasah gue salah. Kok lu bisa tau, Kak?”, gue nanya dengan penuh penasaran. “Ya jelaslah, Sil, lu nggak tau kan gue udah lama tau lu. Udah 3 tau, sejak kita SMP. Cuman karna gue saat itu masih cupu, gue nggak berani buat ngedeketin lu. Gue cuman bisa jadi secret admirer lu. Dan nggak nyangka gue bisa ketemu lu di SMA sekarang ini. Lu pasti nggak tau juga siapa yang ngebangunin kamu pagi itu?” “Hah, pagi itu maksudnya?” “Iya pagi itu, yang bengunin kamu buat shalat.” “Jangan bilang itu kakak.” “Pinter.....”, ucap Kak Tama sambil ngeberantakin rambutku dengan tampang gemes.

Walopun gue heran abis-abisan tapi gue baru tau dari kakak sepupu Nuri ini adalah penggemar rahasia gue, dan Nata tau soal ini. “Nata, I miss you so”. Walo gue dulu anak yang super cupu, tapi dengan kebaikan dan kelembutan hati gue (kata Nata dan Kak Tama sih), ada orang yang ternyata diem-diem merhatiin dan bahkan suka sama gue. Oh, God...Alhamdulillah, terima kasih telah mengirimkan sosok cowok kayak Tam-tam (=panggilan sayang gue ke Kak Tama setelah jadian) sebagai kado terindah sweet 17th ku ini. Dan aku janji, nggak bakal minder dan ngerendahin diri gue terus kayak dulu. Karna selain gue nggak mau bikin Ayah dan Bunda malu, gue juga nggak mau bikin my bestfriend, Nuri dan my beloved boy, Tam-tam kecewa karna gue yang nggak Pede dan lemah. Nata juga pastinya yang selalu menjadi kenangan terindah dalam hati gue yang nggak baka gue lupain.

Dan mulai dari hari itu, gue selalu meningkatkan kualitas diri gue. Baik kualitas otak, attitude, bahkan akhlak gue. Moga gue akan bisa jadi lebih baik setiap hari kedepan. Amin J